Langsung ke konten utama

Postingan

Waktu-Nya

Hari yang kusam berantakan, tanpa rasa hidup disetiap bangunku Siang terasa begitu lama untuk aku bisa bertemu gelapnya malam, Segelap suasana jiwa Kasurku terasa begitu melekat, tak ingin bangkit untuk apapun Aku kelelahan belakangan Padahal bergerak pun tidak Semenjak ada yang pergi Hari-hariku kuisi hanya dengan doa Pergi hampir setiap hari dimana Dia bersemayam Tempat dimana aku bisa mengadu kemalangan ini Berharap kepergian ini akan segera berganti sebuah kedatangan Kau terasa seperti satu-satunya jawaban Hadir untuk membukakanku Kupikir waktuNya memang sungguh nyata indah Sapamu, senyummu, kegigihan dan fokusmu membuatku... ah sudahlah Sayang semua hanya ada dalam anganku, melanjutkan hidup bersamamu Tapi kamu menghilang, juga... Tolong jangan lama perginya,  aku menanti Aku sadar hatiku memang belum sesiap itu menerima cinta Hati yang baru ingin sembuh dari luka Terima kasih pernah mampir di hati yang gusar ini Jangan lupa kembali Aku sungguh menanti......

Rusuh 22 Mei 2019

Aku tetap mau datang ke kampus perjuangan Hari ini pasien pedoku akan dibuatkan celuloid crown, Jelas ini waktu yang kutunggu-tunggu berharap akan jadi hadiah dua puluh lima tahun usiaku Mirisnya, rakyat dari negara ini tidak merestui kebahagiaanku Rusuh Orang-orang memilih diam mengamati dari layar tv apa yang terjadi pada negara mereka Sementara aku, harus merelakan hadiah ulang tahunku karena rusuh, semua notifikasi handphone ku hanya soal berita awas dan peringatan Tak banyak yang mengingat dan tau kalau hari itu peringatan dua puluh lima tahun perjalananku Entah karena berpikir realistis atau karena sudah usiaku, tidak berharap banyak ada yang ingat atau mengucapkan selamat. Setiap ucapan selamat, sangat-sangat ku syukuri akhirnya. Ditambah lagi keadaan media sosial yang penuh hoaks, memaksa sinyal-sinyal dibatasi bahkan sulit sekali untuk mengirimi pesan Apalagi untuk mengucapkan selamat untukku Tak ada yang tau kalau dia bukan benar teman atau keluarga Sudah terja...

Kamu, bagian dari maksud Tuhan

Biru warnanya langit, agar sejuk mata memandangnya Bayangkan jika dia kuning nyentrik Hijau warnanya pohon, karena ada klorofil dalam daunnya Rambutku lurus, mataku hitam, kulitku coklat, tubuh pendek, wajah jerawatan, gigi protrusif Supaya kalian tau itu aku.. kalau tidak begitu, mungkin temanku yang sedang kalian lihat Sebutir debupun diciptakan penuh maksud olehNya Apalagi kamu.. Sekompleks kamu Lebih dari sebuah maksud Tuhan, kamu adalah perpanjangan tanganNya Aku belangsak, tidak berguna. Tidak.... Kamu salah Kamu adalah makhluk yang serupa denganNya, dia ciptakan penuh dengan maksud. Sejauh ini  kamu di sini, itu jalan ceritamu atas izinNya Teruslah berjalan, teruslah mencari maksudNya

Aku dan mimpiku

Seorang gadis kecil, dari pelosok kampung tak ternama. Datang menginjakkan bumi Ibu Kota. Katanya, dia ingin merantau. Penasaran rasanya rindu, Menunggu waktu untuk bisa pulang Dan diam-diam menimbun cita. Sekarang, sudah tahun ketujuh. Dia akhirnya terjebak, belum bisa kembali pada pangkuan Ibunda Termakan ego dan kerasnya kepala sendiri Sudah Ibu larang tapi tetap pergi Rindu tertahan, air mata bergenang Sesak kelelahan Ingin menyudahi tapi hampir tiba pada puncaknya Apakah dia cukup kuat untuk semua mimpi besarnya? Doa dan dukungan dari yang tercinta, membuatnya sanggup melangkah meski tertatih-tatih, terseok-seok merintih menahan sakitnya penolakan duka karena kegagalan. Tidak, Dia bukan gadis dengan sisi lemah yang memenangkan Menjadi kuat, bekal dari Ibunda.